Sosial 08 Mei 2026

KDD dan Kecamatan Lemahabang Perkuat Kolaborasi, Kafe Inklusif Disiapkan Jadi Ruang Kemandirian Difabel

KDD dan Kecamatan Lemahabang Perkuat Kolaborasi, Kafe Inklusif Disiapkan Jadi Ruang Kemandirian Difabel

Lemahabang 7 Mei 2026 - Upaya membangun kemandirian ekonomi difabel terus diperkuat melalui kolaborasi antara Kelompok Difabel Desa (KDD) dan Pemerintah Kecamatan Lemahabang. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan pertemuan rutin dan koordinasi yang digelar KDD Desa Tuk Karangsuwung dan Desa Lemahabang di Aula Kecamatan Lemahabang.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Camat Lemahabang Ibu Yuyun Kusuma Wati beserta jajaran, Kepala Bagian Umum Kecamatan Bapak Deden Komara, Kepala Ekbangsos Kecamatan Bapak Elang, pendamping PKH Kecamatan, TKSK Kecamatan, Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC), anggota KDD Desa Tuk Karangsuwung dan Desa Lemahabang, serta tim Program SOLIDER.

FKDC sebagai mitra SIGAB Indonesia, dengan dukungan Pemerintah Australia - Indonesia melalui Program INKLUSI, terus mendorong penguatan ekonomi dan pemberdayaan difabel di tingkat desa melalui Program SOLIDER (Strengthening Social Inclusion for Diffability Equity and Rights - Memperkuat Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-hak Difabel/Penyandang Disabilitas).

Kegiatan dibuka oleh Bagja selaku Ketua KDD Lemahabang yang sekaligus menjadi MC dalam acara tersebut. Dalam pembukaannya, ia menyampaikan bahwa pertemuan ini bertujuan membangun sinergi antara KDD dan pihak kecamatan dalam merumuskan program pemberdayaan ekonomi difabel yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.

Dalam forum tersebut juga dilakukan pembagian peran antar KDD. KDD Lemahabang berfokus pada penguatan koordinasi, administrasi, dan pengembangan konsep kegiatan, sementara KDD Tuk Karangsuwung mengambil peran dalam pengembangan usaha serta pelibatan anggota dalam kegiatan ekonomi produktif.

Ketua KDD Tuk Karangsuwung, Ari Sandi dalam samburanya, menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi ruang penting bagi teman-teman difabel untuk menyampaikan kondisi, potensi, serta harapan agar memperoleh dukungan nyata dalam meningkatkan kemandirian ekonomi.

“Kami ingin teman-teman difabel memiliki ruang untuk berkembang, belajar, dan mandiri. Kami percaya difabel juga mampu jika diberikan kesempatan dan dukungan,” ujarnya.

Selanjutnya, Nurhandayani selaku tim program SOLIDER memaparkan berbagai persoalan yang masih dihadapi anggota KDD, mulai dari keterbatasan akses pekerjaan formal, rendahnya pengalaman kerja, hingga kendala mobilitas. Namun di balik tantangan tersebut, anggota KDD juga memiliki berbagai potensi yang terus dikembangkan, seperti keterampilan memasak, semangat belajar, dan pengalaman dasar dalam kegiatan usaha.

Pada sesi pemaparan program, Dwi hasri menyampaikan konsep pengembangan Kafe Inklusif sebagai ruang interaksi sosial sekaligus penguatan ekonomi difabel. Program tersebut dirancang bukan hanya sebagai tempat usaha, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi bagi difabel.

“Kafe ini diharapkan menjadi ruang yang inklusif, tempat teman-teman difabel bisa belajar, bekerja, berinteraksi, dan membangun rasa percaya diri di tengah masyarakat,” jelasnya.

Gagasan tersebut mendapat dukungan langsung dari Camat Lemahabang, Ibu Yuyun Kusuma Wati. Bahkan pihak kecamatan memberikan izin pemanfaatan tempat sebagai sarana kegiatan sosial dan penguatan ekonomi difabel.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Mudah-mudahan Kafe Inklusif nantinya bisa menjadi ruang interaksi sosial, tempat belajar bersama, sekaligus penguatan ekonomi bagi teman-teman difabel,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Umum Kecamatan, Bapak Deden Komara, mengajak teman-teman difabel untuk terus semangat bergerak dan berusaha.

“Kalau kita mau bergerak dan berusaha, insyaAllah rezeki akan mengikuti. Yang penting jangan takut mencoba,” ujarnya memberi motivasi.

Sedangkan Kepala Ekbangsos Kecamatan, Bapak Elang, meminta agar hasil identifikasi potensi anggota difabel segera disusun sebagai dasar pengembangan program lanjutan. Ia juga menawarkan pelatihan produksi garam air tawar dan kegiatan bercocok tanam sebagai peluang usaha produktif yang dapat dikembangkan bersama KDD.

“Kami ingin potensi teman-teman difabel benar-benar dipetakan, sehingga program pelatihan yang diberikan nantinya bisa tepat sasaran dan berkelanjutan,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari pendamping PKH Kecamatan, Ipul, yang meminta data difabel yang memiliki minat mengembangkan keterampilan kerja. Bahkan ia menawarkan pendampingan belajar potong rambut bagi difabel yang berminat.

“Kalau ada teman-teman difabel yang ingin belajar potong rambut, saya siap membantu mendampingi untuk belajar bersama,” katanya.

Pertemuan ditutup dengan diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut antara KDD dan pihak kecamatan sebagai langkah awal memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan program ekonomi inklusif yang berkelanjutan di Kecamatan Lemahabang.

Sebelumnya Pertemuan Rutin KDD Durajaya: Perkuat Komitmen dan Dorong Pengembangan UMKM Difabel Selanjutnya Tindak Lanjut Pertemuan KDD, Difabel dan Pihak Kecamatan Gelar Kerja Bakti Persiapan Kafe Inklusif