Pertemuan Perdana KDD Belawa, Perkuat Kebersamaan dan Semangat Kemandirian Difabel
Belawa, 5 Mei 2026 - Pertemuan perdana Kelompok Difabel Desa (KDD) Belawa yang digelar di Rumah Dodol, Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, menjadi momentum penting dalam membangun fondasi kebersamaan dan kemandirian difabel di tingkat desa. Bukan sekadar pertemuan, kegiatan ini menjadi ruang aman untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh FKDC sebagai mitra SIGAB Indonesia dengan dukungan Pemerintah Australia - Indonesia melalui Program INKLUSI, serta merupakan bagian dari Program SOLIDER (Strengthening Social Inclusion for Diffability Equity and Rights - Memperkuat Inklusi Sosial untuk Kesetaraan dan Hak-hak Difabel/Penyandang Disabilitas). Kolaborasi ini menegaskan pentingnya pendekatan inklusi sosial dalam mendorong kesetaraan dan pemenuhan hak-hak difabel di desa.
Ketua KDD Belawa, Pak Rasta, menyampaikan bahwa terdapat 39 difabel di Desa Belawa, terdiri dari 32 laki-laki dan 17 perempuan. Ia menekankan bahwa pertemuan rutin ini bukan hanya agenda formal, tetapi menjadi wadah untuk membangun solidaritas dan saling menguatkan. Lebih jauh, ia juga mendorong agar KDD Belawa mampu berkembang secara ekonomi melalui penguatan usaha UMKM sebagai langkah menuju kemandirian.
Namun, kekuatan utama dari pertemuan ini justru terletak pada keberanian dan kepercayaan. Sebelum acara dimulai, Pak Rasta mengungkapkan keraguannya karena belum lancar membaca. Dalam banyak situasi, hal ini bisa menjadi penghalang. Tetapi ketika ruang dan kepercayaan diberikan, hal tersebut berubah menjadi peluang.
Dengan cara yang sederhana namun penuh makna, Pak Rasta menyiapkan rekaman suara sebagai panduan sambutannya, yang ia dengarkan melalui headset saat berbicara di depan forum. Ini bukan hanya tentang menyampaikan sambutan, tetapi tentang keberanian untuk mencoba, tentang kemauan untuk belajar, dan tentang tanggung jawab untuk tetap menjalankan peran.
Dari momen ini, terlihat jelas bahwa kepercayaan adalah kunci. Ketika difabel diberikan ruang dan kesempatan, mereka tidak hanya mampu berpartisipasi, tetapi juga berkembang dan menemukan cara mereka sendiri untuk mengatasi keterbatasan. Inklusi bukan sekadar hadir, tetapi memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh.
Pertemuan ini diisi dengan sesi perkenalan, berbagi cerita keseharian, serta penyampaian materi perspektif disabilitas. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menciptakan lingkungan yang mendukung, di mana setiap anggota merasa dihargai dan didengar.
Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal yang kuat. Ke depan, KDD Belawa diharapkan tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan yang mendorong kemandirian ekonomi, memperkuat solidaritas, dan membuka lebih banyak ruang inklusif bagi difabel di Desa Belawa.