DAMPAK NYATA PASCA ACARA TEMU INKLUSI TAHUN 2025
Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) bersama Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC) telah menyelenggarakan kegiatan Temu Inklusi di Desa Durajaya, Kabupaten Cirebon, pada 2-4 September 2025. Kegiatan ini bertujuan mempertemukan penyandang disabilitas, pemerintah, dan masyarakat untuk mendorong terwujudnya pembangunan yang inklusif.
Menurut Kuwu Desa Durajaya, Sukirman, pelaksanaan Temu Inklusi 2025 memberikan dampak positif bagi difabel di Desa Durajaya, terutama dalam meningkatkan rasa percaya diri mereka.
> “Temu Inklusi berdampak positif bagi difabel Desa Durajaya karena menjadikan mereka lebih percaya diri,” ujar Sukirman.
Tidak hanya mendapat apresiasi dari pemerintah desa, masyarakat setempat juga merasa bangga karena Desa Durajaya dipercaya menjadi tuan rumah salah satu kegiatan berskala nasional tersebut. Yahya, warga Desa Durajaya, mengungkapkan rasa bangganya atas terselenggaranya Temu Inklusi di desanya.
Selama kegiatan berlangsung, berbagai acara digelar, salah satunya fashion show berbahan dasar kertas nasi dan plastik daur ulang. Kegiatan tersebut diikuti oleh Ahmad Madjazi atau Aji, anggota Kelompok Difabel Desa (KDD) Durajaya. Aji mengaku senang dan bangga dapat tampil dalam acara Temu Inklusi 2025.
Ibu Edah Hamidah, orang tua Aji, juga mengungkapkan rasa bahagianya melihat perubahan pada anaknya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, Aji kini menjadi lebih aktif dan tidak lagi pemalu.
> “Saya merasa bahagia, Aji sekarang tidak malu lagi dan sering mengikuti kegiatan setelah acara Temu Inklusi,” ucap Edah Hamidah.
Namun, di balik suksesnya penyelenggaraan acara, pemerintah desa juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah mempersiapkan sarana dan prasarana yang ramah difabel untuk sekitar 1.000 peserta, seperti penyediaan kamar mandi aksesibel dan pembangunan bidang landai (ramp) untuk akses pengguna kursi roda.
Sukirman juga menjelaskan bahwa pada saat persiapan kegiatan, pemerintah desa tengah menghadapi efisiensi anggaran. Meski demikian, pemerintah desa tetap berupaya mengalokasikan anggaran demi mendukung kebutuhan aksesibilitas dan penguatan kelompok difabel di desa.
> “Saat itu pemerintah desa sedang mengalami efisiensi anggaran, namun alhamdulillah kami tetap bisa mengalokasikan anggaran untuk pengadaan tersebut. KDD juga difasilitasi gedung untuk sekretariat, dan insya Allah tahun ini, walaupun sedikit, kami menganggarkan untuk mendorong UMKM KDD,” ujar Sukirman, Kuwu Desa Durajaya.
Meski demikian, Temu Inklusi 2025 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara difabel, pemerintah, dan masyarakat mampu menciptakan ruang yang lebih inklusif. Kegiatan ini juga membuka peluang bagi difabel untuk tampil, berkembang, dan lebih percaya diri di tengah masyarakat.